Strategi Menangkal Hoax
Resume 5: Strategi Menangkal Hoax
Pemateri : Heni Mulyati, M.Pd.
Moderator : Muliadi
Berbahagia sekali bisa sampai ke resume 5, tiap kali pertemuan selalu ada yang berbeda semoga tetap bersemangat sampai akhir. Kali ini bersama narasumber yang luas wawasan dan pengetahuannya tentang Hoax.Semoga hari-hariku berikutnya menjadi hari yang penuh dengan gairah dalam menulis bersama teman-teman hebat ku di GMLD .Aamiin.
Diawal pertemuan moderator mengingatkan tentang pentingnya menghindari plagiat, mengingat grup ini merupakan kelompok penggiat literasi dan selayaknya memang tidak plagiat.
Hoax adalah salah satu yang paling saya benci, takut, waspada sehingga enggan berkomentar padahal sebenarnya ingin sekali. Kadang saya bingung mana kawan dan mana lawan, saya jadi ingat sosok Jonru Ginting yang pernah menjadi tempat bertanya apakah sebuah postingan hoax atau tidak, namun akhirnya beliaupun tersandung masalah. Masyaallah Hoax memicu fitnah dan perpecahan sungguh ironis disaat informasi sangat mudah beredar yang terjadi malah kebingungan terhadap kebenaran informasi tersebut hingga muncul stigma negatif atau malah sikap apatis sehingga informasi yang keliru marak beredar dan dianggap sebagai kebenaran.
Bu Heni mengawali sesi dengan memperkenalkan Mafindo, sebuah organisasi Kerelawanan yang berdiri 19 November 2016 (bentar lagi ulang tahun) yang didukung tim professional beranggotakan 1.000 orang ditambah relawaan dengan berbagai latar belakang dari 19 kota. Mafindo merupakan satu dari enam organisasi periksa fakta Indonesia yang menjadi IFCN Signatory. Beliau pun menawarkan pada kelompok GMLD 3 untuk menjadi relawan.
Menurut pemateri perkembangan era digital saat ini merubah banyak kebiasaan informasi dan komunikasi. Jika dulu media penyedia informasi terbatas hanya lewat TV, radio, dan koran terpusat pada lembaga tertentu. Namun saat ini dengan adanya internet berita informasi tidak lagi di dominasi lembaga tertentu, Dalam hal komunikasi kita tidak lagi melihat orang yang antri di telepon umum, menggunakan telegram, menunggu balasan surat dari PT Pos sampai-sampai Andrea Hirata enggan bercita-cita bekerja di kantor pos(dalam bukunya....he he), jejaring sosial disebarkan menggunakan teknologi yang mendekati kecepatan cahaya melalui serat optik dan gelombang elektromagnetik.

Saat ini setiap orang yang memiliki akun pribadi, memiliki gadget, maka sangat leluasa untuk menjadi pembuat informasi, penyebar informasi sekaligus pengguna informasi. Terjadi banjir informasi yang luar biasa tanpa filter yang bercampur antar penting atau tidak, berbahaya atau tidak dan sebagainya. Filter dikembalikan kepada kita sebagai pengguna , sehingga banyak diantara kita yang merasa tidak nyaman. Ketika banjir informasi yang terjadi adalah sebagai berikut.
1. Era Post Truth, merupakan kondisi kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran dengan cara memainkan perasaan dan emosi pengguna (netizen). Fakta tidak terlalu berpengaruh pada pembentukan opini dibandingkan dengan emosi dan perasaan . Seseorang lebih percaya kepada orang yang secara personal lebih mengena pada perasaan dan emosinya bukan pada fakta yang disampaikan. Biasanya banyak dimanfaatkan untuk kepentingan politik namun saat ini meluas ke segala lini.
2. Hilangnya Kepakaran merupakan kondisi dimana setiap orang bisa menjadi pembuat gagasan tanpa memiliki kecakapan atau keahlian pada bidang tersebut. Seperti seorang yang menyampaikan ide tentang mengatasi kenakalan remaja padahal dia tidak memiliki keahlian dibidang tersebut.
3. Filter Buble dan Echo Chamber
Filter Buble merupakan kondisi dimana sebuah situs merespon dengan mengirimkan infomasi kepada pengguna berdasarkan apa yang diinginkan oleh pengguna. Contohnya setelah kita mencari sebuah informasi kita diberi saran bahwa orang lain juga mencari informasi sejenis, atau kita disarankan untuk membuka situs2 yang sejenis dengan yang kita buka sebelumnya.Hal ini mereka lakukan berdasarkan data browsing history yang kita lakukan. Homogenitas informasi ini menyebabkan pengguna terisolasi secara intelektual.
Sedangkan Echo Chamber adalah situs atau informasi yang di sarankan berdasarkan kesamaan antar pengguna. Contohnya setelah kita mencari informasi tentang calon presiden idola milenial maka kita diinfokan mengenai orang-orang yang pendukung calon presiden tersebut.
Setelah sedikit memahami efek banjir informasi materi dilanjutkan mengenai apa itu hoaks, ciri-ciri, jenis serta dampaknya dalam kehidupan kita. Hoaks berasal dari kata hocus yang artinya untuk menipu atau mengelabui digunakan pada akhir abad ke 17 di Inggris. Hocus berasal dari kata pocus berarti celoteh tanpa arti untuk mengelabui, seperti sim salabim dalam sulap. Hoaks artinya informasi yang tidak benar tetapi dibuat seolah-olah benar. Hoaks terjadi karena (1) kemampuan literasi digital dan berfikir kritis pengguna tidak merata ,(2) polarisasi masyarakat yaitu situasi dimasyarakat yang terkotak-kotak berdasarkan kesamaan tertentu, (3)kurangnya kecakapan dalam memilah informasi dan periksa fakta. Berikut adalah contohnya.
Bagaimana ciri-ciri sebuah informasi dikategorikan hoaks? Sebuah informasi memenuhi ciri-ciri hoaks diantaranya: (1) sumber infrmasi tidak jelas, (2) membangkitkan emosi; (3) terlihat ilmiah padahal sama sekali keliru; (4) fakta disembunyikan; (5) meminta untuk diviralkan.
Seperti apakah dampak Hoaks dalam masyarakat?Hoaks dapat menimbulkan perpecahan dalam masyarakat, dapat pula menyebabkan kebingungan karena keliru membedakan yang benar dan salah, selain itu dapat menyebabkan hilangnya nyawa akibat terlalu percaya dengan hoaks sehingga penanganan medisnya terlambat. Sungguh amat dahsyat dampaknya sehingga memang sangat perlu bagi kita menangkal hoaks.
Sebagai penggiat literasi digital kita perlu memahami bagaimana cara untuk menangkal hoaks yaitu :
1. Periksa Fakta terhadap narasi, foto dan video dengan langkah sebagai berikut:
Pemeriksaan ini hendaknya dilakukan dengan sabar hingga didapatkan hasil atau memperoleh klarifikasi dari pihak yang berwenang.
2. Lakukan pendekatan persuasif pada orang-orang terdekat kita, teman, atau orang yang kita kenal untuk mengklarifikasi hoaks. Bisa juga dilakukan dengan memberikan link klarifikasi dengan pendekatan yang sesuai.
💥Pertanyaan 1
Terkait dengan diskusi setelah paparan materi yang menarik untuk disimak adalah sumber informasi seperti apa yang dikatakan berasal dari media yang kredibel atau dewan pers dan bagaimana informasi yang orisinil?
Tanggapan:
Berita merupakan produk jurnalistik dan dilindungi oleh Undang-Undang Pers. Saat kita menemukan berita yang dianggap tidak benar dapat mengajukan keberatan secara tertulis. Setelah itu akan ada hak jawab dengan difasilitasi oleh Dewan Pers, jika ditemukan kekeliruan beritanya dapat di revisi.
Sedangkan Hoaks bukan produk jurnalistik sehingga berhubungan dengan Undang-Undang ITE. Dengan demikian mengandung konsekuensi pelanggaran yang menyebabkan konten di hapus hingga sanksi hukum terhadap pelakunya.
💥Pertanyaan 2:
Bagaimana membangun kesadaran di lingkungan agar mempertimbangkan dahulu sebelum memposting sesuatu?
Tanggapan:
Perlu pendekatan intensif yang bersifat edukatif mengenai pentingnya sikap hati-hati sebelum memposting sesuatu. Dimulai dari diri sendiri yang menjadi model bersikap kritis dan selektif. Tidak serta merta mempercayai sebuah informasi sebelum mengeceknya terlebih dahulu.
Alhamdulillah, disela ujian dari Allah resume ini dapat saya selesaikan.Semoga membawa keberkahan.
Buah kelapa ditanam disamping perigi
Sudah tua jatuh sendiri
Sikap yang baik mentabayuni
Agar tak sesat menata diri
💜💛💚









Keren resumenya...suka pantunnya...memotivasi😊
BalasHapusBagus pembukaan pantunnya
BalasHapus